Audit Kecepatan Website dengan YSlow

grade

Setelah 3 artikel tentang aturan YSlow saya publish , pada artikel ini akan saya tunjukan bagaimana mengaudit kecepatan suatu website dengan ekstensi Google Chrome Yslow .

Silahkan install dengan mengkik link diatas, buka website yang ingin anda audit, lalu   klik icon YSlow di pojok kanan atas, Iconnya mirip speedometer. Sebelum di klik “RUN TEST” pastikan centang  “Check here if the current page prevents itself from being embedded/iframed” . Hasil audit terdiri dari 3 tab. Tiga tab itu adalah Grade, Component dan statistik. Gambar dibawah ini merupakan hasil test website dari candra.web.id.

Grade 

Tab pertama tentang Grade, Grade diukur dari A-F , makin tinggi Gradenya makin bagus, Website yang bagus mempunyai skore diatas 80 (B), jika website anda dibawah 80 berarti banyak hal di website anda yang tidak optimal. Yang menarik dari Grade ini, anda diberi saran untuk meningkatkan performa website anda. Grade ini terbagi lagi mejadi subtab seperti Contents, Cookies, CSS, Javascript, Image dan Server dimana masing masing bagian punya nilai sendiri sendiri, makin banyak nilai A, makin bagus website anda, jika ada komponen yang bernilai F artinya anda tidak melakukan optimasi dibagian itu. Sub Tab inilah yang disebut dengan aturan YSlow yang sudah saya bahas di posting sebelumnya. Tampak bahwa website saya Grade C dengan skore 79 point. Lumayan, hanya butuh dua point agar website bergrade B, cukup optimal untuk sebuah blog.

Component

Tampilan dari tab Componen berisi informasi website yang sedang diaudit.  dalam hal ini adalah CSS, Javascript, Image dan dokumen yang diakses. Anda bisa menganalisa script apa yang mempunyai ukuran paling besar dan berapa total ukuran data yang ditransfer dalam sekali loading. Dari sini anda bisa mengoptimasi script dan membuang komponen yang dirasa tidak perlu. Jika  file javascript anda terlalu besar, kemungkinanya  anda tidak melakukan minifikasi. Tampak bahwa komponen terbesar dari website adalah javascriptnya, sepertinya saya perlu membuang javascript yang tidak perlu atau meminifikasi javascript agar ukurannya menjadi lebih kecil.

Statistik

Bagian ketiga adalah statistik. Tampak bahwa pertama kali diakses, server harus mengirim 252kb data dengan jumlah request sebanyak 27 kali, sedangkan akses selanjutnya, file yang ditransfer oleh server cuma tinggal 39kb, artinya proses  caching sangat optimal mengingat transfer data untuk akses selanjutnya hanya 1/6 dari akses pertama. Statistik di bagian ini membandingkan ukuran file saat pertama kali diakses dan akses selanjutnya. Biasanya pertama kali diakses, loading terasa lambat namun akses selanjutnya akan terasa ringan. Hal ini disebabkan karena file sudah tercache di browser. Silahkan anda bandingkan ukuran statistik sebelah kiri dengan sebelah kanan. Makin besar bedanya, artinya website anda makin optimal. Hal ini bagus karena sebagian komponen di website anda sudah tercache di browser. Namun, jika perbedaannya tidak terlalu banyak, anda perlu memperhatikan cache-control baik dari sisi bahasa pemrograman yang anda pakai atau dari sisi server.

Nah, Website yang anda bangun grade berapa coba?

Author: Candra Adi Putra

Candra Adi Putra adalah Alumni STMIK AKAKOM Yogyakarta. Like Candralab Studio Di Facebook.

Tinggalin komentar dong!