lab

Jurusan TI sejak beberapa tahun terakhir memang menjadi primadona bagi mahasiswa baru. Hal ini disebabkan prospek TI di masa sekarang dan masa depan memang cukup cerah. Contoh sederhananya saja, setiap kantor butuh staff TI atau minimal bekerja dengan komputer, CPNS tiap tahun hampir pasti selalu ada Pranata komputer dan makin berkembangnya teknologi membuat lowongan dibidang jaringan komputer atau pembuatan software terus meningkat dari tahun ke tahun.

Tidak mengherankan jika kampus-kampus yang sebelumnya tidak ada jurusan TI sekarang ramai ramai membukanya. Sayangnya, sebagian dari kampus ini kurang berkualitas dan lebih cenderung mengejar keuntungan daripada melahirkan lulusan TI. Jangankan yang baru buka yang akreditasi nya baru BAN PT, yang sudah lama berdiri saja banyak mahasiswa yang ngendon di kampus ga lulus lulus. Sebenarnya banyaknya mahasiswa yang tidak lulus tetap waktu itu karena apa sih?  Dari mahasiswa itu sendiri yang malas atau memang kampusnya yang tidak berkualitas?

Daripada saling menyalahkan, mending saya beri kritik untuk jurusan Teknik Informatika untuk Dikti, koperteis, kampus TI dan mahasiswa IT itu sendiri.  Semoga kritik dibawah ini bermanfaat.

1. Seleksi mahasiswa baru yang lebih ketat.

Jika kampus negeri ada UMPTN atau tes masuk sejenis, maka di kampus swasta pun ada juga tes masuknya. Sayangnya, tes masuk diswasta itu hanya sekedar “syarat” yang hampir pasti calon mahasiswa yang mengikuti tes dijamin lulus. Nah loh? soalnya kalau terlalu ketat, nanti tidak dapat mahasiswa. Jangankan seleksi ketat, seleksi asal asalan saja kampus lebih sering kekurangan mahasiswa. Makanya jangan salahkan kalau mahasiswa lulusnya lama. harusnya yang membuat test itu dari dikti atau kopertis dengan soal yang sama disetiap kampus dan calon mahasiswa yang diterima jika dia berhasil mengerjakan 60% dari soal Matematika dan bahasa inggris.  Tentunya soalnya juga harus berkualitas juga.

2.Memperbanyak SKS untuk Logika, Matematika dan Bahasa Inggris

Logika, matematika dan bahasa inggris adalah ilmu wajib bagi para mahasiswa TI. Sayanya, justru kebanyakan mahasiswa mempunyai kemampuan bahasa inggris pas- pasan, padahal semua materi IT berasal dari barat. Selain itu, logika sebagian mahasiswa tidak terlalu kuat. Hal diatas menyebabkan mahasiswa kesulitan menyelesaikan tugas akhir.

3. Memperbanyak tugas Kelompok.

Hal yang sangat kurang ketika saya kuliah adalah kerja kelompok. Saya rasa kerja kelompok adalah salah satu hal yang harus ditekankan. Mengapa? karena dalam dunia kerja, kebanyakan pekerjaan adalah pekerjaan tim. Saya sendiri justru lebih banyak mendapat ilmu kerja team dari organisasi. Sayangnya mahasiswa TI cenderung cuek dengan organisasi. Sebagian dosen juga sebenarnya sudah sering membuat tugas kelompok, namun kadang mahasiswa yang mengerjakan hanya satu atau dua dalam sebuah kelompok, yang lainnya jadi team pengembira. Hal ini bisa diakali dosen dengan cara masing masing anggota tim harus menjelaskan apa yang dia kerjakan saat bekerja menyelesaikan tugas kelompok  saat presentasi. dalam presentasi semua tim harus bisa menjelaskan, tidak cuma duduk dan diam selama diskusi berlangsung.

4. Mengundang praktisi dan dosen tamu

kebanyakan dosen menyampaikan materi secara teori karena mereka akademisi. Seharusnya dari kampus sesekali mengundang praktisi dibidang yang sesuai untuk memberikan gambaran nyata dari topik yang sedang dibahas. Misalkan materi jaringan komputer, sesekali dosen mengundang praktisi jaringan untuk menjelaskan bagaimana jaringan diimplementasikan di perusahaan. materi programming bisa mengundang praktisi  dari perusahaan pengembang software untuk memberikan kuliah tentang trend programing di dunia kerja. Cara lain, sering sering mengadakan seminar dan workshop akan meningkatkan gambaran nyata pekerjaan setelah lulus.

5. Memperbaharui kurikulum dan Materi .

Kalo mengupdate kurikulum sepertinya Dikti dan kampus kampus sudah rajin melakukannya setiap sekian tahun sekali, sayangnya ada sebagian dosen yang materinya tidak berubah dari tahun ke tahun bahkan soal ujian pun ada yang sama persis dari tahun lalu dengan sekarang. Untuk materi dasar seperti Logika sih tidak apa apa, nah kalau materi nya pemrograman dan materinya dari tahun ketahun sama? nah ini yang bikin mahasiswa lulus terus kaget  lihat deskripsi pekerjaannya.

6. Menyesuaikan materi praktek dengan dunia kerja.

Saya masih ingat ketika kuliah jaringan komputer hanya diajari cara menseting email client, cara menseting proxy dibrowser atau cara meremote server. Anehnya, ilmu cara menseting server, membangun mail server dan sejenisnya justru tidak diajari. Ajaib!. Contoh lain, materi pemrograman visual atau web baru sampai ke pegenalan bahasa seperti konsep variable, if ..else, object, kelas dan sebagainya tanpa disertai contoh real. Tidak heran mahasiswa dapat nilai A di praktikum pemrograman tidak menjamin dia akan menjadi programmer. Sebenarnya tidak susah bagi kampus untuk menyesuaikan materi praktikum dengan dunia kerja, masalahnya tinggal dosennya mau tidak untuk membuat materi praktikum yang berkualitas?

7. Mendatangkan praktisi  saat menguji Tugas akhir

Sepertinya, untuk hal ini masih sedikit kampus yang melaksanakannya. Namun hal ini penting, ketika mahasiswa membuat tugas akhir, biasanya dia membuat alat, tool atau sofware. Untuk menguji sofware ini sebaiknya bukan hanya dosen, tapi juga praktisi diundang untuk mengetes kualitas dari karya mahasiswa yang sedang diuji. Layak jual tidak? bagus tidak? sesuai lapangan tidak dan seterusnya sehingga ketika lulus, mahasiswa bisa membuat sofware yang standar dengan kebutuhan di lapangan.

8. Kerjasama dengan perusahaan.

Alasan seseorang kuliah adalah karena ingin mendapatkan pekerjaan dan pendapatan yang lebih baik. Akan sangat bagus jika kampus bekerjasama dengan perusahaan dan saat mahasiswa lulus, maka langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan tertentu.  Bayangkan jika 20-30% lulusan sebuah kampus TI langsung diterima kerja saat wisuda, tentunya makin mendorong mahasiswa atau calon mahasiswa untuk masuk ke kampus tersebut.  Sejauh ini, hanya kampus besar yang mengadakan kerjasama seperti ini, itupun tidak sampai 30% lulusan langsung diterima, tapi sudah cukup bagus lah.

9. Melengkapi Perpustakaan dengan buku referensi Asing.

Kebanyakan mahasiswa membuat tugas dengan mencari referensi berhasa indonesia. Aduh aduh..padahal referensi bahasa asing sudah tersedia di perpustakaan atau digital librari di internet.  Alasan ini tidak lepas dari kemampuan bahasa inggris yang rendah dari si mahasiswa. Namun jika kampus bisa meminimalisir buku buku seperti “Tips trik belajar…” atau buku seperti “12 jam mahir java” saya yakin amahasiswa akan terpacu mamakai buku bahasa inggris. Ketika saya kuliah, perpustakaan sudah menyediakan buku referensi bahasa asing, namun sangat sedikit yang membaca dan meminjamnya. Berkebalikan dengan buku bahasa indonesia yang selalu ludes dipinjam.

10. Menyediakan forum untuk alumni.

menyediakan portal untuk alumni adalah nilai plus sebuah kampus. Dengan adanya forum atau portal alumni, para lulusan bisa mendapatkan info tetang dunia kerja dan lowongan kerja. Sebagian besar kampus sudah punya portal ini. Namun setahu saya, kampus kampus gurem yang mahasiswanya sedikit jangankan buat portal alumni, nah websitenya aja kadang tidak punya. Seaindanya punya pun hanya berisi informasi statis yang tidak dupdate bertahun tahun.

Seandainya 10 hal diatas sudah diterapkan 90% kampus TI diindonesia, insyaallah, IT di indonesia akan berkembang pesat, Bagi yang masih mahasiswa, jika di kampus kamu tidak termasuk 10 hal diatas, maka sudah seharusnya mahasiswa aktif diluar kampus, jangan minta disuapin terus!.

Penulis: Candra Adi Putra

CandraLab Studio adalah Software house di Yogyakarta, Indonesia yang fokus ke aplikasi Mobile (Android) dan Web . Hubungi saya di candraadiputra(at) gmail.com

Tagged on:     

6 thoughts on “Kritik untuk Jurusan Teknik Informatika

  • 5 February , 2014 at 6:04 pm
    Permalink

    incubator kreatifitas ?
    Sekarang kan sudah ada Bandung Digital Valley, Jogja Digital Valley, sama Jakarta Digital Valley..
    cuman emang yang punya bukan DIKTI, tapi Telkom

    Reply
  • 26 January , 2013 at 7:27 pm
    Permalink

    salah besaar bro ,,
    yang ente utarakan kebanyakan pekerja oriented
    =selain logika matematika sama bhs inggris , ada yg pling penting lagi kreatifitas sama inovasi , terlalu bnyk pelajaran otak kiri yg diajarkan dan terlalu memory oriented harusnya kreatifitas yg diasah
    harusnya yg dilakukan DIKTI itu bikin
    = incubator kreatifitas ,,
    kita bikin silicon valley di Indonesia ,,
    =pusat technopreneur ,
    biar semua anak Indonesia lomba2 bikin startup teknologi

    Reply
    • 31 January , 2013 at 1:12 am
      Permalink

      terimakasih atas tambahan dan masukannya

  • 8 January , 2013 at 10:21 am
    Permalink

    keren… klo bisa direalisasikan d lapangan!!!!!!

    Reply
  • 3 January , 2013 at 8:41 pm
    Permalink

    Masukan yang luar biasa, harusnya diposting ke DIKTI atau kampus IT , agar dunia IT kita maju.

    Reply

Tinggalin komentar dong!